Langsung ke konten utama

Dilema Pertambangan

Catatan: Yamin’nya Muhammad

Hampir semua usaha dan pekerjaan mempunyai manfaat sekaligus resiko mendapat mudarat. Baik usaha yang bergerak di bidang Produksi, distribusi maupun jasa. dari sisi manapun kita melihat dan kalkulasikan, tetap akan terjadi seperti itu. Bahkan dalam proses terdekat sekalipun yaitu proses kita makan buah misalnya, ada manfaat dan ada juga resiko mudarat. Pasti.
Dalam konteks Kegiatan Pertambangan, maka akan terjadi hal yang sama. Kita dihadapkan pada dua sisi tersebut, mudarat dan manfaat. Kehidupan untuk hari ini atau Resiko di Masa depan. Maka dari itu, Pemerintah yang berperan sebagai motor utama bersama Tokoh Masyarakat, juga seluruh elemen masyarakat harus ikut memikirkan hal ini. Contoh, jika kegiatan pertambangan ini dilaksanakan, maka kita harus berhitung berapa banyak yang mengambil manfaat dan berapa jumlah yang berpotensi terkena dampak negatifnya. Harus kalkulasi untung rugi. bukan saja dari segi jumlah, tapi juga kualitas.
Jika berbicara tentang masa depan anak cucu kita, saya sepakat dan sefaham. Tetapi jangan lupa bahwa kita hari ini sedang hidup, melahirkan, membesarkan dan mendidik anak dan cucu generasi masa depan itu. Dengan apa kita menghidupkan mereka hari ini ? Apakah kita akan menyelamatlkan masa depan dengan cara membunuh masa kini ? suatu hal yang mustahil. Lalu Kita akan memulai darimana ? Jawabannya adalah perbaiki kualitas masa kini untuk keberlangsungan hidup di masa depan. Tak bisa kita melahirkan dan membesarkan anak cucu dari hasil pencurian dan hasil korupsi hari ini dikarenakan kurangnya mata pencaharian. Analoginya, Kita tak bisa membuat kursi dengan arang.
Jika Sumber Daya Alam di atas kulit bumi ini sudah mampu menghidupkan dan mensejahterakan kita hari ini, tentu saja kita tak ingin ambil resiko untuk mengeruk isi bumi. Pertanian dan Peterrnakan atau perkebunan misalnya, apakah kita sudah mampu berbuat maksimal untuk mengurangi pengangguran dari sektor ini ? Kita hari ini belum mampu, bahkan terbilang gagal menciptakan lapangan kerja, sehingga mau tak mau eksodus mata pencaharian akan bergerak ke isi perut bumi, salah satunya adalah pertambangan, agar kita tetap hidup dan mendapat penghidupan.
Dengan tidak mengesampingkan resiko mudarat seperti yang saya sebut di atas, maka jika yang mendapat resiko dan dampak buruk adalah sesuatu yang tidak jelas, terpendam dan bahkan tidak terbukti secara akademis, mengapa kita harus mengorbankan manusia-manusia di atas tanah yang sedang mendapat manfaat ? kita mesti berhitung, lalu ambil keputusan.
Maka, jika kita, pemerintah, mampu menghidupkan masyarakat dari usaha yang tidak beresiko apapun, maka jangan coba-coba bermain-main dengan pertambangan. Walau itu sulit, dan hampir tak mungkin. Wallahualam.
Sumbawa Barat, July 24, 2011 at 1:17am

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Taliwang Tempo Dulu

N ama Taliwang sudah sangat dikenal sejak zaman majapahit dan tercatat dalam kitab Mpu Prapantja tahun 1365. Nama Taliwang juga diabadikan oleh Pemerintah Republik sebagai nama kapal, Kapal Republik Indonesia atau KRI TALIWANG, sebagai sarana perhubungan pertama yang menghubungkan Merak dan Panjang, pada tahun 1953. Kapal Cargo ini dibuat oleh Belanda pada tahun 1946. Kemudian diberi nama TALIWANG, dioperasikan oleh Koninklijke Paketvaart Mij – berbendera Belanda. (IMO 5351284). Pada Tahun 1953 kapal ini dijual ke Pemerintah Republik Indonesia, sehingga berbendera Indonesia, dengan tetap bernama TALIWANG. “De Taliwang”, kapal cargo Belanda saat bersandar di dermaga pulau buru, Maluku. (1949) Photo: C.J. (Cees) Taillie, Koleksi Tropenmuseum, Belanda. Kapal S.S. Van Heemskerk dari KPM di Teluk Taliwang (1920) Photo: Koleksi Tropenmuseum, Belanda. Pemandangan Pantai di Taliwang (1900-1920) Photo: Koleksi Tropenmuseum, Belanda. Kuda di pantai, Sumbawa (1900-1940) Photo:...

Taliwang Dalam Peta Sejarah Indonesia

Oleh:  Fathi Yusuf, S.Pd., M.Pd.* Taliwang yang sekarang ini kita kenal sebagai ibu kota baru di wilayah paling barat pulau Sumbawa, mempunyai sejarah yang sangat panjang, lebih panjang daripada kehadiran Kesultanan Sumbawa di Sumbawa. Taliwang dan Seran, sebelum masuknya Islam ke Sumbawa merupakan dua kerajaan yang paling besar di bagian barat Pulau Sumbawa (daerah Ano Rawi/daerah matahari tenggelam). Benarkah hal ini? kenapa dalam beberapa buku sejarah Sumbawa dan NTB menyebutkan bahwa kerajaan Seran, Taliwang, dan Jereweh sebagai kerajaan kecil, benarkah demikian? Mungkin pertanyaan-pertanyaan tersebut akan berdengung di pikiran pembaca yang terhormat, atau bahkan mungkin ada yang mengatakan bahwa tulisan ini adalah pembelokkan sejarah dari sejarah yang telah ada? Saya mengajak kita semua untuk melepaskan diri dari “zona kenyamanan kita” tentang sejarah Sumbawa yang sudah berkarat di pikiran kita Tau Samawa (baca: orang Sumbawa) selama ini. Saya telah membaca beberap...

Akankah KSB Menjadi “Surga Narkoba” ?

Kita bisa merasakan bagaimana terpukul perasaan hati orang tua ketika mengetahui anaknya ditangkap polisi karena kasus narkotika dan obat-obatan terlarang. Air mata yang mengalir merupakan ekspresi kepedihan hati orangtua ketika anaknya diketahui terjerat narkoba. Kalau kita bersimpati, karena kejadian seperti ini bisa terkena pada siapa saja. Ketika ada anggota keluarga yang terjerat narkoba, maka seluruh keluarga akan menderita. Semua merasakan sakitnya dan sulitnya untuk bisa keluar dari jeratan itu. Bahkan tidak jarang akibatnya sangatlah fatal. Apabila tidak berhadapan dengan jeruji penjara, pengguna bisa meninggal dunia. Banyak sudah mereka yang menjadi korban dari narkoba. Peredaran narkoba sekarang ini memang sangatlah luar biasa. Terutama pada kita, jangkauannya bahkan sudah sampai anak-anak di bawah umur. Cara peredarannya semakin sulit diterima dengan akal dan semakin hari semakin canggih cara berjualannya. Untuk diketahui, Narkoba adalah singkatan dari nark...